Mapan Adalah Tampan Yang Sesungguhnya!

Buat yang masih single maupun sudah punya gandengan pun, menikah sekali untuk seumur hidup dan hidup berkeluarga, serba berkecukupan, langgeng sampai kakek nenek dan dikelilingin banyak cucu adalah salah satu impian dan komitmen seumur hidup yang ngga bisa di jalanin dengan main-main.

Sayangnya, banyak yang tidak punya perencanaan dan perhitungan untuk membiayai momen sakral itu. Untuk menikah dengan  resepsi di gedung lengkap dengan catering dan EO nya saja sudah harus mem-budget minimal sekian puluh juta. Setelah menikah juga sudah harus hidup mandiri, lepas dari subsidi orang tua.

Jadi harap maklum kalo banyak Pria, yang rela menunda menikah dan masih mengais rejeki hanya untuk menggelar pesta pernikahan impian dan hidup berkeluarga dengan serba kecukupan.

Mapan dulu atau menikah dulu?

Ini pertanyaan bernada ancaman yang sering terlontar umumnya dari mulut orang tua. Saya pun pernah ditodong pertanyaan seperti ini oleh pacar dan calon mertua saya. “Kapan kita nikah mas?” Sampai-sampai saya itu dibikin bingung, kenapa sih ingin sekali cepat-cepat dinikahi? Yang namanya menikah itu kan memang lah sebuah tujuan akhir, tapi bukan lantas dibuat seperti ajang lomba balap karung, yang harus cepet-cepet-an finish.

Para kaum Adam biasanya pro dengan pilihan menunggu mapan dahulu, karena para kaum Adam sebagai calon tulang punggung keluarga, dominan dengan pemikiran-pemikiran yang logis. Cari uang jaman sekarang saja sudah susah kok ya mau menghabiskan uang yang begitu banyak hanya untuk mengadakan sebuah pesta pernikahan, padahal setelah itu masih ada kehidupan baru lagi yang membutuhkan biaya, dan biaya itu mutlak butuh ke-stabil-an finansial.

Sebaliknya, para kaum hawa sudah bisa di pastikan, pada umumnya memilih untuk menikah dahulu. Berbeda dengan Pria, karena secara medis semakin tua usia wanita maka semakin tidak ideal, rahim wanita untuk mengandung anak. Di sisi lain, secara sosial katanya sih, Wanita Indonesia yang telat menikah ataupun terlalu lama melajang juga sering merasa malu menyandang predikat “ngga laku”, apalagi karena usia jalan terus namun status masih abu-abu.

Ganteng itu relatif, tapi mapan itu mutlak

Hidup berkecukupan menurut guru SD saya adalah yang cukup sandang, pangan dan papan. Namun bila di kaitkan dengan pernikahan dan hidup berkeluarga, persepsi mapan itu berubah menjadi yang minimal harus punya deposito, emas, mobil, rumah lengkap dengan swimming pool, karena ternyata hidup dengan “cukup” saja sekarang sudah tidak ideal lagi.

Kalau untuk saya pribadi, definisi mapan itu cukup sederhana, yaitu yang bisa hidup mandiri tanpa harus bergantung lagi dari uang jajan orang tua. Oleh karena itu memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap adalah dasar dari segala kemapanan. Selanjutnya tinggal bagaimana kita mengelola keadaan finansial kita agar lebih optimal, tentunya lebih stabil, sehingga mampu untuk mendapatkan persetujuan calon mertua untuk menikahi putrinya.

Target tinggi yang ditentukan oleh calon mertua, tidak boleh menjadi alasan kandasnya hubungan dengan pasangan. Mau gonta-ganti calon mertua, syarat utama untuk mempersunting anak perempuannya tetaplah sama. Mapan! Dan bila seorang Wanita menuntut pasangannya untuk segera di nikahi, janganlah merasa tertekan, anggap saja itu adalah sebuah motivasi buat para Pria untuk segera me-mapan-kan dirinya.

Ngga perlu mewah yang penting berkesan

Budaya di Indonesia telah memposisikan sebuah pesta pernikahan sebagai salah satu ajang prestisius dan untuk menonjolkan kelas sosial sebuah keluarga. Terutama untuk keluarga dari pasangan Wanita, mengingat biasanya yang memiliki hak prerogatif menentukan bagaimana wujud dari penyelenggaraan pesta tersebut, sedangkan dari pihak Pria biasanya hanya dimintai bantuan saja, atau kalau paling sial adalah justru menanggung seluruh biaya pesta tersebut.

Menabung untuk biaya pernikahan bisa menjadi salah satu alternatif dalam mempersiapkan budget pernikahan. Tidak peduli sudah punya pasangan atau masih menjomblo, mau pria ataupun wanita, bila sudah memiliki pekerjaan dengan penghasilan tetap, dan memang punya niat mulia untuk menikah, segeralah untuk menyisihkan sekitar 20 sampai 30 persen untuk ditabung.

Apalagi dengan maraknya industri perbankan yang menawarkan produk kredit tanpa agunan dengan persyaratan mudah, menjadi salah satu alternatif yang menggiurkan bagi calon pengantin untuk rela meminjam uang dalam jumlah besar untuk menikah demi mewujudkan momen impian sekali seumur hidup ini.

Pernikahan dengan bermodal cinta dan surat hutang di bank, jangan sampai membuat kehidupan berumah tangga pengantin baru harus di hantui para debt collector. Sudah gitu keadaan semakin diperparah dengan besan yang ikut-ikutan tidak akur perihal masalah pembagian yang menanggung hutang biaya pernikahan yang mewah tersebut. Memang nggak salah berhutang di bank, tetapi jadikan sebagai opsi terakhir.

Wedding itu cuman sehari, tapi Marriage itu seumur hidup

Sekali lagi, saya pribadi maklum, bila sebuah pernikahan idaman yang hanya sekali seumur hidup, patut dirayakan dengan megah. Namun yang perlu diingat adalah, masih banyak biaya yang harus dipikirkan selain biaya pesta nan megah tersebut. Bagaimana dengan tabungan untuk hari tua? Untuk jaminan kesehatan? Lalu persiapan untuk memiliki momongan? Belum lagi biaya pendidikan anak? Terus jangan lupa juga biaya untuk hidup sehari-hari?

Setiap orang butuh perencanaan keuangan yang baik jika ingin mendapatkan kehidupan yang baik di masa depan. Tidak peduli berapa pun besarnya penghasilan kita, banyak langkah yang dapat diambil untuk memanfaatkan semua harta kita dengan efisien dan memastikan kita memperoleh kemapanan finansial di masa datang.

PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) sebagai salah satu organisasi jasa keuangan terkemuka di dunia, hadir dan ingin membantu keluarga Indonesia mencapai kesejahteraan dengan kemapanan finansial, dengan menyediakan program yang lengkap mulai dari produk-produk proteksi dan pengelolaan kekayaan, termasuk asuransi jiwa, pendidikan, kesehatan, dan perencanaan hari tua.

Semoga dengan hadirnya PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) sebagai salah satu pemain utama di industri financial planner, mampu mengedukasi para generasi muda sedini mungkin dalam menyiapkan kemapanan finansial untuk mewujudkan pernikahan impiannya dan mempersiapkan dana untuk pernikahan yang terbebas dari hutang.

Tulisan ini di ikut sertakan dalam “Sun Anugerah Caraka – Kompetisi Menulis Blog 2015”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s