Kredit Motor Murabahah: Ah Sama Saja?

Saya awalnya termasuk dari kalangan mereka yang tidak paham dengan beraneka ragam istilah dalam keuangan syariah. Istilah “akad” sendiri saja, saya tidak tahu artinya. Pengertian “Akad” yang saya pahami itu ya sama saja kayak kontrak perjanjian. Belum lagi macam-macam nama dari akad yang membuat saya bingung. Murabahah, mudharabah, wadiah, dan ijarah? Apa itu?

Satu-satunya hal yang saya paham dari keuangan syariah ya cuman menyoal “mengharamkan riba”.

Pengertian riba itu sendiri sejujurnya saya pun kurang jelas. Ada yang bilang riba itu maksudnya bunga, makanya sewaktu saya mem-posting artikel lomba blog keuangan syariah periode 1 – Kartu Kredit Dengan Konsep Syariah, pemahaman saya “riba” itu ya bunga, kalau dalam hal postingan saya berarti ya bunga pinjaman kartu kredit.

Tapi kalo baca-baca di artikel keuangan di koran ataupun di internet seolah-olah menyiratkan kalo riba itu adalah pungutan tambahan. Berarti denda keterlambatan pun bisa dianggap riba, dan pengertian riba itu menjadi lebih luas tidak hanya sebatas bunga.

Nah loh? Bisa jadi anda seperti saya yang non-muslim yang nota-bene sungguh tidak paham arti dari istilah-istilah asing tersebut. Oleh karena itu lah, mau-ngga-mau saya harus melenggang sendiri ke customer service bank syariah untuk mencari tahu sendiri perihal maksud dan kententuan-ketentuan masing-masing kontrak perjanjian tadi.

Awalnya sih mencoba mengurus pembelian kredit motor sendiri lewat bank syariah, niatnya sih karena penasaran dan iseng-iseng saja, tapi ya lumayan mendapat pencerahan keuangan syariah dari customer service bank syariah.

Perbedaan antara pembiayaan kredit motor antara kredit konvensional dengan yang menggunakan akad murabahah, saya rasa sudah umum sekali dan sering banget ya di bahas? Namun ya itu tadi, mungkin karena terlalu banyak pengertian asing jadinya pemahamannya agak sulit di cerna. Bisa jadi juga anda seperti istri saya, yang baru mendengar setengah jalan ilustrasi dari mbak customer service, langsung mengeluarkan statement “Ah sama saja” seperti judul di postingan blog ini.

Nah dalam postingan blog kali ini, saya mencoba menjelaskan kembali maksud dari kontrak perjanjian jual-beli (Akad Murabahah) kredit motor. Saya coba sampaikan se-singkat dan se-jelas mungkin. Berikut perbedaannya:

Harga dalam keuangan syariah adalah harga beli motor yang di bayarkan bank syariah kepada dealer motor ditambah dengan margin penjualan ke nasabah untuk bank. Sedangkan pada kredit konvensional adalah harga motor yang di jual oleh dealer, dikurangi down payment dari konsumen, ditambah dengan bunga pinjaman untuk bank.

Jadinya berapa yang harus di bayar konsumen?

Seandainya harga dari dealer adalah 18 juta ditambah margin keuntungan untuk bank syariah adalah 2 juta maka tercapai harga kesepakatan adalah 20 juta, ya terserah mau diangsur 1 kali, 2 kali, 3 kali ataupun 30 kali, kewajiban nasabah untuk membayar ya tetap 20 juta itu.

Besaran margin keuntungan bank syariah pun di tentukan bersama nasabah di saat awal akad, jadi nasabah juga tahu berapa besaran yang di peroleh oleh bank syariah. Bila nasabah merasa margin terlalu besar, silahkan nego sendiri dengan bank syariah pilihan anda.

Sedangkan dalam keuangan konvensional dengan harga yang sama (18 juta), bunga pinjaman untuk keuntungan bank akan berbeda-beda besarannya, bergantung dari jangka waktu pembayaran konsumen. 3 kali mengangsur dengan 30 kali mengangsur, beban bunga nya tentu berbeda.

Semakin lama konsumen mengangsur, ya berarti bunga nya semakin besar, berarti tanggungan konsumen bertambah banyak, bahkan bisa lebih dari 20 juta.

Bila anda terlambat mencicil, baik keuangan syariah maupun keuangan konvensional, tetap mengganjar anda dengan penalti. Bedanya, dalam keuangan konvensional, penalti dianggap sebagai pendapatan bank sedangkan pada keuangan syariah, penalti dianggap sebagai infak.

Ah sama saja! (Quote: Istri)

Penalti dalam keuangan syariah disebut ganti rugi, dimana besaran yang di kenakan kepada konsumen yang terlambat membayar karena disengaja – termasuk di dalamnya lalai, adalah tetap, misal 20ribu, 30ribu atau 50ribu.

Bank syariah juga tetap memberikan kesempatan kepada nasabah untuk menegosiasi bila keterlambatan pembayaran cicilan yang memang pada kenyataannya di karenakan kesulitan keuangan dan bukan karena kesengajaan.

Ganti rugi yang di himpun oleh bank syariah akan disalurkan melalui mustahik, jadi tidak di anggap sebagai pendapatan oleh bank, karena sejatinya memang bank syariah mewajibkan kita untuk disiplin dalam melunasi kewajibannya.

Sedangkan dalam keuangan konvensional, penalti disebut denda dan menjadi pendapatan tambahan bank di luar pendapatan bunga, dimana besaran yang di kenakan kepada konsumen yang terlambat baik karena sengaja ataupun tidak sengaja, umumnya berdasarkan prosentase sekian persen dari besarnya angsuran per bulan.

Denda sebesar 0.5% dari angsuran 650ribu rupiah saja sudah 3.250 rupiah per-hari. Kalo terlambat 1 minggu saja sudah 22.750 rupiah. (0.5% x 650.000 x 7 hari). Coba kalo kondisinya anda harus opname di rumah sakit selama 1 bulan dan belum bisa membayar angsuran? Maka bank konvensional tentunya tidak mau tahu, anda akan tetap di kenai denda sebesar 97.500 rupiah.

Bila denda ini tidak segera di lunasi, maka tanggunan konsumen adalah selain hutang dan bunga pinjaman juga di tambah lagi denda pinjaman yang umumnya di hitung perhari. Maka beban konsumen akan semakin menumpuk dan semakin banyak pula yang harus di keluarkan konsumen untuk melunasi kewajibannya.

Sebagai konsumen ya tentu saja saya memilih pembelian kredit melalui bank syariah dengan menggunakan akad murabahah, mengapa? Karena besaran hutang jatuhnya baik pada saat akad maupun bila terjadi wanprestasi – ini istilah akuntansinya untuk kelalaian dalam kewajiban (termasuk di dalamnya menunggak membayar angsuran), tidak terlampau besar bila dibandingkan dengan keuangan konvensional, sudah begitu secara ekonomis tentu saja lebih menguntungan mencicil motor dengan besaran yang tetap setiap bulannya.

Mohon maaf, saya hanya bisa menjelaskan perbedaannya dari sisi finansial saja, sebab saya takut salah kalau menjelaskan pengertiannya secara hukum agama.

Semoga dengan postingan blog kali ini, kelompok “Ah Sama Saja” diharapkan semakin berkurang. Dan sekali lagi, produk keuangan syariah – meskipun bernuansa islami sejatinya bersifat universal dan tidaklah se-eksklusif yang di sangka kebanyakan orang, sehingga tidak tertutup buat umat agama apapun untuk bisa menikmati manfaatnya.

One thought on “Kredit Motor Murabahah: Ah Sama Saja?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s