Penyalahgunaan Narkoba? Di DOR Saja!

Sumber: https://www.facebook.com/BNNAceh
Sumber: https://www.facebook.com/BNNAceh

Judul postingan saya begitu kontroversial dan provokatif, tapi saya yakin judul saya cukup mewakili perasaan geram ibu-ibu yang anaknya jadi korban penyalah gunaan narkoba.

Para pengedar narkoba, apalagi yang sudah jadi terpidana, saya sih secara pribadi sangat mendukung sekali supaya mereka itu segera di DOR saja. Sebab, gara-gara mereka, Indonesia sekarang sudah berasa seperti pasar bagi para pengedar narkoba, bahkan tebalnya dinding penjara pun tak mampu meredam bisnis perdagangan obat-obat terlarang ini.

Biarlah corong suara HAM karena urusan DOR-DOR-an pengedar narkoba itu di teriakan sekeras-kerasnya. Kalo menurut saya, lebih melanggar HAM mana, merenggut nyawa pengedar narkoba atau merenggut masa depan pengguna narkoba? Silahkan di jawab sendiri dalam hati.

Lalu bagaimana dengan pengguna nya?

Sama saja, kalo buat saya, langsung saja di DOR!

Eh tapi di DOR yang saya maksut disini adalah “Dukungan Orang-orang agar di Rehabilitasi”

Kalo cuman sekedar ditangkap mah ujung-ujungnya kayak artis Roy Marten ato Revaldo yang udah pernah ketangkep 2 kali, musisi Fariz R.M juga diciduk 2 kali sama kepolisian. Kenapa bisa sampe kena terus? Ya gimana mau sembuh kalo obat yang dikasih juga ngga tepat?

Pecandu narkoba itu harus nya di rehab, bukannya di tangkap! Sejatinya pecandu narkoba itu adalah korban, saya yakin orangnya itu sendiri belum tentu juga mau pakai, tapi mungkin karna keadaan lah yang memaksanya.

Orang-orang yang lagi tertekan psikisnya, misal yang lagi patah hati ato yang sering di buly di rumah. Orang-orang kayak mereka ini cenderungnya mencari yang namanya pelarian. Mau lari kemana? Umumnya pada orang-orang terdekat. Makanya muncul istilah curhat. Namun ketika curhat itu tidak memadai, sementara godaan narkoba begitu nikmat, maka terjeratlah sudah mereka ke rayuan gombal obat terlarang itu.

Bisa jadi juga mereka adalah orang-orang yang nganggur, bisa karna habis di pecat dari kantor lamanya, tingkat pendidikan yang rendah atau emang kesempatan untuk bekerja itulah yang ngga ada, yang akhirnya memaksanya untuk menganggur. Karna ngga ada kesibukan, bosen dan jenuh dengan keadaan, dan untuk cari-cari kesibukan sebisanya dia, maka jadilah dia seorang pemakai atau bahkan pengedar.

Atau ngga, yang paling sering adalah karena coba-coba. Kehidupan malam anak abege umur 17 tahunan, biar sama teman-temannya di bilang gaul dan keren, maka obat terlarang ini pun di tenggak juga.

Padahal ya katanya anak muda itu kan generasi penerus bangsa, sangat disayangkan kalo potensi yang ada di dalam diri mereka itu harus lenyap begitu saja ditelan dengan gelapnya dosa narkoba.

Dalam proses rehabilitasi itu sendiri bisa terdapat tiga tahap. Yang pertama adalah tahap rehab medis dengan cara pemberian obat tertentu oleh dokter yang terlatih untuk mengurangi sakau. Lanjut tahap kedua adalah tahap rehabilitasi terapi, dengan cara di ikutkan dalam terapi atau konseling, pendekatan secara agama, program 12 langkah, dan lain sebagainya. Dan tahap yang terakhir adalah tahap pembinaan dimana mantan pecandu diberikan kegiatan yang dia sukai untuk mengisi kegiatannya sehari-hari, gunanya? Dengan kesibukannya semoga mantan si pecandu ini tidak terjerumus kembali ke jeratan narkoba.

Nah seperti yang saya sebutin tadi, DOR=Dukungan Orang-orang agar di Rehabilitasi, keyword penekanannya bukan pada kata “Rehabilitasi”-nya, tapi pada “Dukungan Orang-orang”.

Mengapa?

Bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati! Maka langkah pertama untuk proses pencegahan adalah harus datang dari lingkungan yang terdekat, yaitu keluarga.

Pendidikan moral harus ditanamkan sedini mungkin, bahwa narkoba adalah barang berbahaya yang dapat merusak masa depan, bahwa narkoba mengandung zat-zat racung berbahaya yang dapat merusak tubuh, dan sudah sewajarnya kita harus menjauhinya. Jangan sampe anak-anak kita jadi pengedar, apalagi pemakai!

Pendekatan secara agama juga sangat diperlukan sebagai pelengkap dari pendidikan moral yang diberikan oleh keluarga sendiri. Penyuluhan dari BNN ataupun sosialiasi tentang narkoba dari instansi terakhir juga sangat-sangat bermanfaat.

Dan kalo akhirnya pun kena, janganlah takut ataupun ragu untuk melapor ke BNN. Karena dengan adanya program Rehabilitasi 100.000 penyalahgunaan narkoba, BNN menjamin tidak akan ada proses hukum, melainkan akan di rehabilitasi hingga sembuh total.

Kita juga ngga bisa asal aja, ooh si itu kena narkoba udah di rehab saja.

Ngga bisa gitu, la emangnya kalo dia sudah di rehab, trus dia bakal langsung bebas dari narkoba gitu?

Ngga bos! Kemungkinan dia bakal balik makai lagi tetep aja ada.

Apalagi kalo keluarga, teman-teman, masyarakat, terutama tetangga dekatnya itu ngga bisa nerima dia sebagai mantan pecandu narkoba yang sekarang sudah di rehab dan ingin kembali menjalani kehidupannya di babak baru.

Tidak menerima gimana? Ya yang paling gampang, adalah dia di kucilkan, di buly di lingkungannya yang terdekat, ato bahkan sampai tidak ada satu pun sekolah yang mau nerima dia ato juga kantoran yang mau hire dia sebagai pegawai. Ayolah? Kan semua orang juga layak di berikan kesempatan kedua. Masa lalu nya mungkin kelam, tapi tidak ada yang tahu bagaimana masa depannya kan?

Makanya, keluarga juga berperan dalam proses rehabilitasi bagi para pecandu narkoba, sebagai semangat dan yang menyemangati untuk sembuh, sebagai tujuan akhir bahwa tidak ada orang lain yang dapat menerima kita apa adanya selain keluarga sendiri. Dukungan orang-orang sangat di perlukan baik dalam proses pencegahan, rehabilitasi sampai akhir diterima kembali di masyarakat.

Ngga cuman sebatas mencegah dan mengobati saja, kita juga harus memerangi yang namanya narkoba ini. Caranya? Penegakan hukum yang jelas bagi pengedarnya, tentunya dibantu dengan BNN dan pihak kepolisian atau kejaksaan.

Perlu diketahui, pencegahan, penanggulangan penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba merupakan tanggung jawab bersama. Lagi-lagi dukungan banyak orang sangat diperlukan disini. Dan semoga slogan “Say No To Drugs” tidak hanya berakhir di selebaran kertas belaka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s