Kartu Kredit dengan konsep Syariah!

Perbankan SyariahSaya sebenernya ngga butuh kartu kredit, sebelumnya juga ngga pernah punya kartu kredit. Beberapa kali tawaran dari telemarketing bank plat merah tanah air, keukeuh merayu saya untuk apply 1 atau 2 kartu kredit, tapi tetep saya turn down.

Tawaran menggiurkan seperti free annual fee, cicilan dengan bunga rendah, sampai dengan limit 8 digit dengan embel-embel “puluh juta” menjadi senjata combo ampuh buat para telemarketing untuk mencoba menggombali saya, tetep tidak membuat saya bergeming untuk punya kartu kredit.

Alasan saya sih simpel aja, karna saya takut kalo ngga sanggup bayar pinjaman beserta bunganya, lalu anak istri serta keluarga saya harus di terror sama debt-collector.

Bukan rahasia lagi kalo jebakan batman perpaduan antara promo belanja plus diskon besar-besaran oleh merchant, bunga retail yang di patok 2.95% per-bulan yang sekilas tampak rendah itu dengan sistem perhitungan bunga yang ber-bunga kembali, telah banyak memakan korban, terutama mereka yang tidak tahu menahu menyoal perhitungan bunga.

Tau-tau aja setelah menerima lembar tagihan langsung shock serangan jantung mendadak melihat besar bunga terhutang hampir 60% dari total pokok hutang, lantas gaji dan tabungannya habis buat ngelunasin tagihan tersebut.

Jujur, akhirnya saya emang punya kartu kredit. Saya baru mulai merasa butuh kartu kredit ketika istri saya mulai hamil anak pertama, dengan pertimbangan bahwa biaya persalinan Istri di rumah sakit itu tidak sedikit.

Pertimbangan lainnya adalah lebih karena cash keras yang saya punya selama ini memang saya alokasikan untuk kebutuhan yang lebih mendasar, mendesak, yang tidak ter-duga, yang sifatnya rutin ato yang nominal nya ngga banyak, semisal belanja ke pasarnya si mamah, ato tagihan-tagihan rutin tiap bulan semacam pulsa HP, beli bensin, PAM, listrik dll.

Otomatis, bila saat itu seluruh tagihan rumah sakit langsung saya lunasin, maka cadangan cash yang saya pegang bisa di bilang sangat minim.

Akhirnya untuk bayar biaya persalinan serta macem-macem biaya lainnya saya putuskan untuk meminjam sejumlah uang dari penerbit kartu kredit dan untuk sistem pembayaran pinjaman itu saya ubah menjadi tenor 12x supaya ngangsur nya juga tidak begtu berat meski dengan konsekuensi, saya diganjar bunga 0.9% per bulan untuk semua tagihan rumah sakit tadi.

Ini kartu kredit
Ini kartu kredit bank konvensional

Sejatinya, kalo buat saya, pemahaman kartu kredit adalah alat untuk pinjam uang. Tetapi pemahaman umum yang terlanjur berkembang, kartu kredit justru digunakan untuk sarana belanja dengan berhutang karna bisa bayar belakangan. Apalagi dengan dukungan Gerakan Nasinal Non Tunai (GNNT) oleh Bank Indonesia, merchant-merchant di tanah air serasa mendapat angin segar tentunya.

Kalo dengan pemahaman saya yang seperti itu, harusnya kartu kredit yang saya miliki adalah kartu kredit dengan konsep syariah.

Karena kalo menurut akad Qardh diatur mengenai pinjam meminjam dalam artian kontrak hutang dimana pemegang kartu kredit sejatinya dipinjamkan sejumlah uang dan wajib untuk mengembalikannya secara penuh maupun mencicil kepada penerbit kartu kredit dalam tempo yang sudah di sepakati.

Saya memang bukan Muslim, tapi saya sebagai seorang akuntan, cukup setuju dengan konsep syariah yang mengharamkan yang namanya bunga. Karena emang niatan saya adalah untuk meminjam uang untuk membiayai kelahiran istri saya, dan bukannya untuk shopping, sehingga bila pinjaman saya diganjar dengan beban bunga kok rasanya ya ngga rela juga ya?

Lagipula, dalam konsep syariah, se-pengetahuan saya, uang tidak dianggap sebagai suatu komoditas perdagangan yang bisa menimbulkan untung rugi, seperti halnya kartu kredit yang bila pembayarannya telat atau kurang, pihak bank bisa mengganjar kita dengan sejumlah persen bunga.

Justru yang bisa menimbulkan untung rugi adalah produk atau jasa yang dihasilkan oleh uang tadi. Misalnya dalam hal ini, adalah jasa dari rumah sakit yang sudah membantu persalinan istri saya, atau jasa dari pihak penerbit kartu kredit yang sudah meminjam kan saya sejumlah uang untuk melunasi tagihan rumah sakit tadi.

Nah atas jasa-jasa dari penerbit kartu kredit tadi, maka wajar-sah-dan halal lah bila dari pihak bank menagihkan sejumlah fee kepada pemegang kartu kredit. Saya bilangnya fee lo ya, bukan bunga. Fee yang saya maksut ya bisa annual fee, monthly fee, ato biaya penagihan. Dan ini udah sesuai lo dengan akad Ijarah.

Cuman sayangnya, produk keuangan syariah yang bernama kartu kredit syariah yang saya idam-idamkan tadi, belum saya temukan di bank-bank syariah di Indonesia.

Kartu Kredit BNI Hasanah, http://www.bnisyariah.co.id/produk/hasanah-card
Kartu Kredit BNI Hasanah, http://www.bnisyariah.co.id/produk/hasanah-card

Sebenernya sih ada 1, dari BNI Syariah, yang namanya Hasanah Card, namun tampaknya produk ini pemasarannya kurang di dukung. Buktinya, sampai detik ini, belum ada telemarketing yang nawarin saya produk ini.

Produk keuangan syariah yang paling umum adalah tabungan baik dengan akad Mudharabah yang artinya bentuk kerjasama antara pemilik modal dengan pengelola dimana Nisbah atau besaran bagi hasil disepakati, atau juga dengan akad Wadiah yang artinya tabungan yang sifatnya adalah murni titipan nasabah dan harus di kembalikan setiap saat kepada nasabah bilah nasabah menghendakinya.

Ada juga KPR sampai dengan KKB (Kredit Kendaraan Bermotor) yang menggunakan Akad Murabahah ato Akad jual beli, dimana bank sebagai lembaga keuangan syariah, membeli produknya terlebih dahulu yang kemudian di jual kepada nasabah dengan sejumlah porsi bagi hasil yang sudah disepakati dengan nasabah.

Seiring dengan perkembangannya Perbankan syariah di tanah air, diharapkan produk keuangan syariah yang di miliki bank syariah harus lebih bervariatif dan tentunya bisa meng-cover area-area kebutuhan yang tidak bisa dijangkau oleh perbankan konvensional. Mungkin misalnya kredit modal kerja, ato kredit pendidikan, produk perlindungan kesehatan dan jiwa ato ya balik lagi produk keuangan syariah idaman saya, kartu kredit syariah.

Sekali lagi, produk keuangan syariah meskipun bernuansa muslim, sejatinya, produk yang ditawarkan adalah sifatnya universal, sehingga saya yang beragama katolik pun terus terang tergiur untuk memilikinya. Karena bagaimanapun juga lebih enak merasakan untung secara bersama-sama, dan inilah inti dari konsep keuangan syariah: bagi hasil dan halal. Aku Cinta Keuangan Syariah

Iklan

3 thoughts on “Kartu Kredit dengan konsep Syariah!

  1. […] keuangan syariah adalah universal, siapa saja dapat menikmatinya. Bahkan di lomba ini pun ada Blogger dari kalangan Non Muslim yang ikut dan Beliau memakai produk kartu pembiayaan syariah. Dan artikel pemenang ini menampilkan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s